Transaksi Gadai di Pegadaian Meningkat Jelang Idul Fitri

Mulyono Pegadaian
EVP Pegadaian Regional Jateng dan DIY, Mulyono jelaskan tren Pegadaian jelang Idul Fitri, 18 Mei 2020. (FOTO: Dzap)

Terkini.id, Semarang – PT. Pegadaian Persero wilayah Jawa Tengah dan DIY mencatat, terjadi peningkatan transaksi gadai dari nasabah yang cukup signifikan akibat situasi pendemi Covid-19 dan momen Idul Fitri yang tinggal beberapa hari ke depan.

Hal ini disampaikan langsung oleh Executive Vice President Regional Jawa Tengah dan DIY, Mulyono Senin 18 Mei 2020, di ruang kerjanya Kantor Wilayah Pegadaian di jalan Ki Mangunsarkoro kota Semarang.

Mulyono menjelaskan peningkatan transaksi tak lain disebabkan oleh kondisi perekonomian warga, khususnya golongan menengah ke bawah yang sedikit banyak terdampak Covid-19 sehingga banyak dari mereka yang saat ini membutuhkan dana segar untuk menopang perekonomian rumah tangga.

Dan salah satunya dengan cara transaksi gadai karena dinilai cukup mudah dan tidak memakan waktu lama dalam prosesnya.

“Kalau untuk transaksi gadai memang terjadi peningkatan, kenaikan transaksi gadai sekitar 2,3 persen dengan nilai transaksi sekitar Rp. 4,1 Triliun untuk wilayah Jateng dan DIY,” ungkap Mulyono.

Baca juga:

Namun lanjut Mulyono, untuk transaksi non gadai seperti pembiayaan usaha melalui jaminan fidusia justru mengalami penurunan.

“Kalau non gadai turun sekitar 7,52 persen dengan total nilai transaksi sekitar Rp. 958 Milyar tercatat pada H-11 kemarin,” jelas Mulyono.

Berbeda dengan transaksi gadai yang semakin meningkat pada masa pandemi dan jelang lebaran, justru transaksi non gadai kecenderungannya menurun dikarenakan banyak bidang usaha dari nasabah yang terdampak Covid-19 dan mengharuskan nasabah untuk mengurangi atau bahkan menghentikan produksi usahanya.

Namun demikian pihak Pegadaian telah menyiapkan beberapa skenario pembinaan kredit diantaranya restrukturisasi dan relaksasi kredit, untuk membantu nasabahnya khususnya di masa pandemi ini.

Agar para nasabah tidak terlalu dibebankan dengan kewajiban angsuran yang sudah barang tentu sedikit banyak berpengaruh.

Mulyono menerangkan restrukturisasi kredit di Pegadaian berlaku untuk kredit usaha dengan jaminan fidusia atau non gadai.

“Kredit usaha non gadai dengan jaminan BPKB ada kredit amanah kepemilikan kendaraan bermotor baik roda 2 dan roda 4, ada juga kredit usaha dengan jaminan akte tanah. Nah ini kita lakukan restrukturisasi untuk dilakukan perubahan perjanjian atau adendum dengan menambahkan jangka waktu sehingga nasabah bisa lebih ringan dalam angsurannya,” ujar Mulyono.

Tercatat untuk nasabah yang melakukan pengajuan restrukturisasi kredit jumlahnya mencapai 4137 nasabah dengan nilai total pinjaman sekitar Rp. 128,6 Milyar.

Sementara itu terkait relaksasi kredit, Mulyono menjelaskan hal tersebut berlaku untuk kredit dengan skema gadai dengan jaminan benda berharga perhiasan seperti emas. “Kami memperpanjang jangka waktu dari waktu kredit normal 120 hari ditambah 30 hari lagi, jadi 25 persen untuk masa jangka waktu kredit gadai,” jelas Mulyono.

Selain restrukturisasi dan relaksasi kredit, PT. Pegadaian Persero juga menyiapkan program layanan Gadai Peduli dengan memberikan keringanan dengan meniadakan sewa modal atau bunga.

Tentu saja hal ini disambut positif oleh para nasabah Pegadaian.

Terbukti sekitar 9900 nasabah Pegadaian tercatat di Kanwil Pegadaian Semarang dengan nilai transaksi sekitar Rp. 6,1 Milyar, telah mengikuti program Gadai Peduli.

“Gadai Peduli merupakan fasilitas pembiayaan untuk pendanaan atau pinjaman sampai dengan satu juta rupiah dengan skema gadai itu bebas sewa modal atau bebas bunga untuk jangka waktu 3 bulan dari bulan Mei hingga Juli,” ujar Mulyono.

Dengan Gadai Peduli ini, lanjut Mulyono Pegadaian secara nasional menargetkan penambahan jumlah nasabah sebanyak 5 juta nasabah, 3,5 juta dari nasabah lama dan 1,5 juta dari nasabah baru.

“Secara nasional kami Pegadaian menargetkan 5 juta nasabah dapat terlayani atau dalam hal ini kami lebih menitik beratkan kepada kemanfaatan pegadaian,” ungkap Mulyono.

Mulyono menambahkan menjelang Idul Fitri tahun ini, banyak nasabah gadai yang tidak melakukan penebusan melainkan melakukan penambahan pinjaman atau Top Up karena terjadi kenaikan harga emas.

“Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, biasanya pada saat lebaran itu yang untuk kredit gadai banyak orang melakukan penebusan untuk dipakai sebagai perhiasan nah saat ini justru banyak nasabah tidak melakukan penebusan tapi melakukan Top Up atau minta tambahan pinjaman karena harga emasnya terjadi kenaikan. Maka kita ikut menaikan pula standar taksiran logam,” tutup Mulyono.

Komentar

Direkomendasikan

Berita Lainnya

Begini Keterangan TNI AD Terkait Jatuhnya Helikopter di Kendal

Helikopter TNI AD Jatuh di Kawasan Industri Kendal

Jumatan Pertama, Ganjar Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Jateng Sukses Galang Bantuan Bagi Warga Terdampak Covid-19

Brigjen Pol Abiyoso Seno Aji Resmi Jabat Wakapolda Jateng

12 Ton Nanas Berhasil di Ekspor dari Jawa Tengah ke Arab Saudi Untuk Pertama Kali

Hasil Halaqoh Ulama Jateng, Daerah Hijau Boleh Gelar Ibadah di Masjid

Irwashum Polri Laksanakan Operasi Kepolisian Kontinjensi Terpusat Aman Nusa II Candi Penanganan Covid 19

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar