Kembang Kempis Hotel di Semarang Efek Corona

Stefanus Agung Fovere
Stefanus Agung Dir. Operasional Fovere Hotel bersama rekan, 7 April 2020. (Foto: Zap)

Terkini.id, Semarang – Wabah pandemi corona terbukti memukul telak dunia bisnis dan usaha, tak terkecuali bisnis perhotelan di kota Semarang. Beredar informasi di sejumlah media massa, 16 hotel di Jawa Tengah sementara waktu tidak beroperasi lagi termasuk diantaranya hotel di Semarang.

Namun sebagian besar hotel masih mencoba menjalankan bisnisnya, berjuang untuk bertahan bahkan untuk bisa selamat dan keluar dari gejolak ekonomi saat ini.

Stefanus Agung direktur operasional Fovere Hotel mengungkapkan, saat ini tingkat hunian hotel berada dikisaran 20 persen.

“Karena adanya larangan berkumpul dan perjalanan jauh, maka banyak perusahaan dan instansi yang menunda kegiatan bahkan membatalkan sampai waktu yang belum bisa dipastikan. Dan di Semarang ada sekitar 10 hotel yang sementara ini menghentikan operasionalnya”, ujar pria yang akrab disapa Steve ini.

Steve menambahkan, angka tersebut mungkin bisa meningkat karena belum ada kepastian bisnis.

“Dengan adanya larangan mudik dapat dipastikan occupancy saat periode Idul Fitri bulan Mei 2020 akan anjlok dibanding tahun lalu.

“Biasanya bulan ramadhan banyak acara bukber baik dari instansi atau perorangan, namun jika situasi tidak mereda otomatis akan mengalami penurunan bahkan zero,” tegasnya.

Sementara itu ketika ditanya bagaimana dengan Fovere Hotel dirinya menjawab, “Fovere mengambil langkah antara lain promo food delivery, memperkecil pengeluaran yakni sistem cuti tidak dibayar untuk karyawan atau unpaid leave dan menonaktifkan lantai yang kosong. Intinya untuk bisnis sudah tidak ada permintaan, sehingga yang dilakukan mengetatkan pengeluaran harian,” ungkap Steve.

Beruntung letak Fovere Hotel tidak berada di wilayah ruas jalan yang ditutup Pemkot Semarang, sehingga peluang untuk mendapatkan limpahan tamu masih terbuka, meskipun dengan skenario terburuk Steve harus menjalankan sepertiga performa hotelnya.

Steve juga menyampaikan hotelnya sudah mengajukan permohonan relaksasi kredit kepada beberapa bank dengan adanya situasi ini. Dan dirinya optimis Pemkot Semarang dan PHRI atau Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, ikut memberikan dukungan terhadap kebijakan ini.

“Seandainya Fovere tutup, tetap saja ada biaya karyawan yang harus kami keluarkan seperti separuh gaji karyawan, beban listrik dan beban bank. Makanya kami memilih untuk buka, karena masih ada demand walaupun kecil, tapi paling tidak bisa BEP. Dan untuk mengantisipasi penyebaran virus, hotel selalu kami bersihkan dengan disinfektan, sabun juga selalu tersedia bahkan masker kami sediakan, agar tamu dan kami sendiri tetap terlindungi,” tutupnya.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Cara Menghemat Uang Setelah Gajian Turun

Terkait Pengamanan Pilkada, Kapolda Jateng Tidak Berencana Berkantor di Solo

Langgar Protokol Kesehatan, Pegawai Pemprov Siap-Siap Didenda Hingga Rp 500.000

Ganjar Fokus Stimulus Usaha Mikro Untuk Hadapi Resesi

Ganjar Minta Provider Seluler Tangani Area Blank Spot di Jateng

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar